Selasa, 03 Mei 2011

Lombok Paradise

Surga di Pulau Seribu Masjid


 

 

COBA rasakan nikmatnya suasana hangat penduduk asli Sasak, bercanda dengan anak pantai, melihat kehidupan sehari-hari dan mengunjungi tempat-tempat indah di Lombok.
 1. Pantai Senggigi.
Menikmati senja nan indah di senggigi lombok merupakan pengalam tak terlupakan... beautiful sunset..


                                                                exsotisme yang mengagumkan

                                                                                                                       sun set senggigi
                                                    terbentang luas memukau........



 
prasaran dan tarsnportasi yang ramah dan murah....................


 2. gili trawangan











Perjalanan dimulai dengan menilik hasil kerajinan tembikar EBONG di Banyumelek, dilanjut dengan melihat proses pembuatan songket SESEKAN di Sukarara, dan di sana saya menerima keramah tamahan penduduk asli suku SASAK, di Sade, Lombok Tengah.
Terdapat jejeran rumah tradisional beratapkan jerami, dan cara unik membersihkan lantai rumah, serta tradisi menculik mempelai perempuan, semuanya begitu memukau saya. Sungguh menyenangkan berada di tengah-tengah masyarakat tradisional suku Sasak yang masih mempertahankan bahasa aslinya.
Kemudian perjalanan dilanjutkan dan sampailah di Pantai Kuta (baca: Kute) yang memiliki hamparan pasir bagai biji merica. Sejauh mata memandang yang menyambut adalah hamparan laut biru merona kehijauan diapit oleh tebing di sisi kanan dan kiri. Langit biru cerah berhiaskan awan putih, melengkapi pesona wisata Pantai Kuta. Semuanya membuat seolah waktu berhenti. Saya pun memejamkan mata, menghirup angin laut, sambil mendengarkan desir ombak. “Sungguh nikmat berada surga dunia ini sendirian” ucap saya dalam hati. Kekayaan Tuhan yang luar biasa.
Tiba-tiba saya tersadar, karena kedua kaki telah terbenam jauh ke dalam pasir. Sungguh unik pasir di Pantai Kuta. Selain besarnya seperti butiran merica, pada saat berpijak di atasnya, maka kaki akan terperosok jauh ke dalam dari yang kita kira. Membuat rasa hangat dan terasa menyegarkan.
Di sana, saya sempat bersenda gurau dengan beberapa anak pantai, teriknya matahari membakar kulit tak lagi terhiraukan. Sungguh tak meragukan bahwa Indonesia bangsa yang ramah tamah. Kedamaian inilah yang menenangkan hati dan pikiran.
Setelah puas bersenda gurau dan menikmati suasana Pantai Kuta yang indah, tibalah waktunya untuk kembali Senggigi. Rasanya berat meninggalkan suasana yang sangat menyenangkan di alam yang mempesona.
Perjalanan pulang kali ini, saya mengambil rute perjalanan yang berbeda dan melihat keindahan lainnya, sebuah pemandangan hamparan hijau padi di sawah yang terlihat elok menawan.
Sesampainya di kota, tidak lupa saya singgah membeli madu Sumbawa dan dodol nangka khas Lombok kegemaran saya dan keluarga. Di sore hari yang penuh kegembiraan itu, saya masih melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi beberapa tempat seperti Pura Lingsar, yang menandakan simbol Islam dan Hindu dalam keharmonisan. Dengan mengikuti kisah sejarah Pura Lingsar, saya berhenti di depan Kolam Wali untuk mengikuti tradisi lempar koin dan menghitung batu sambil bermohon dalam hati dan berharap permohonan dikabulkan.
Lambat laun, senja pun mulai menampakan rautnya. Momen terbenamnya sang surya tidak ingin saya lewatkan dengan sia-sia, konon sunset di sini sangat indah. Saya pun menuju Pura Batu Bolong sebagai pemberhentian terakhir saya. Disertai dahsyatnya deru ombak menghantam bebatuan, di ujung karang berdiri dengan kokoh Pura Batu Bolong, tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerahNya pada pulau eksotis ini, pulau Lombok. Di sanalah saya mengucap syukur pada yang maha kuasa untuk semua keindahan yang boleh saya nikmati.
(copy and edit from blongers.com)

Minggu, 21 November 2010

Kawin (Nikah) Lari Ala Adak Sasak

Kalau Anda di Lombok dan ingin menikah curilah anak gadis itu, bawa lari tanpa sepengetahuan keluarganya, bila sehari semalam tidak ada kabar maka dianggap gadis itu telah menikah!

Mencuri untuk menikah lebih kesatria dibandingkan meminta kepada orang tuanya. Namun ada aturan dalam mencuri gadis di suku asli di Pulau Lombok.

Memang cukup unik dari suku Sasak penduduk asli warga di Pulau Lombok Propinsi Nusa Tenggara Barat. Untuk urusan perjodahan suku ini menyerahkan semuanya pada anak, bila keduanya sudah saling suka, tidak perlu menunggu lama untuk menikah, curi saja anak gadis itu, pasti menikah. mencuri anak gadis itu lebih diterima keluarganya. Merarik istilah bahasa setempat untuk menyebutkan proses pernikahan dengan cara dicuri. Caranya cukup sederhana, jika keduanya saling menyukai dan tidak ada paksaan dari pihak lain, gadis pujaan itu tidak perlu memberitahukan kepada kedua orangtuanya. Bila ingin menikah langsung aja bawa gadis itu pergi dan tidak perlu izin.Mencuri gadis dengan melarikan dari rumah menjadi prosesi pernikahan yang lebih terhormat dibandingkan meminta kepada orang tuanya.


Ada rasa kesatria yang tertanam jika proses ini dilalui. Terlebih lagi kelas bangsawan yang di sana menyandang gelar Lalu dan Raden. Namun Jangan lupa aturan, mencuri gadis dan melarikannya biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu.
Dan gadis itu tidak boleh dibawa langsung ke rumah lelaki, harus dititipkan ke kerabat laki-laki. Setelah sehari menginap pihak kerabat laki-laki mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan sebagai pemebritahuan nahwa anak gadisnya dicuri dan kini berada di satu tempat tetapi tempat menyembunyikan gadis itu dirahasiakan, tidak boleh ketahuan keluarga perempuan. Nyelabar, Istilah bahasa setempat untuk pemberitahuan itu, dan itu dilakukan oleh kerabat pihak lelaki tetapi orangtua pihak lelaki tidak diboleh ikut. Rombongan Nyelabar terdiri lebih dari 5 orang dan wajib mengenakan berpakaian adat. Rombongan tidak boleh langsung datang kekeluarga perempuan.Rombongan terlebih dahulu meminta izin pada Kliang atau tetua adat setempat, sekedar rasa penghormatan kepada kliang, datang pun ada aturan rombongan tidak diperkenankan masuk ke rumah pihak gadis.

Mereka duduk bersila dihalaman depan, satu utusan dari rombongan itu yang nantinya sebagai juru bicara menyampaikan pemberitahuan. Memang unik budaya yang ada di Suku Sasak namun kini ada pergeseran budaya Merarik, seperti adanya prosesi meminta kepada orangtua dan bertunangan yang sebelumnya kurang dikenal oleh suku sasak. Tetapi seiring berkembangnya budaya luar dari masyarakat perantau yang datang dan menetap Akulturasi Budaya mulai terjadi. Lahirlah istilah sudah menikah tetapi belum nikah adat. Artinya prosesi menikah itu dilakukan dengan cara meminang tetapi belum menikah secara Merarik, mencurinya dari rumah si Perempuan. Ini Akulturasi Budaya yang muncul, meminang dan mencuri anak gadis prosesi nikan yang dujalankan bersamaan.













Gendang Belek (Musik Tradisional Sasak)

Pengaruh Budaya Bali

Budaya Merarik ini sangat kental dipengaruhi oleh budaya Bali, dalam sejarah, suku sasak Lombok menjadi wilayah dibawah kekuasaan kerajaan Karang Asem yang dirajai oleh Anak Agung. Kentalnya budaya Bali diakar budaya suku sasak tidak mudah dihapus begitu saja. Namun tidak semua wilayah di pulau lombok menjadi wilayah kekuasaan Anak Agung, sehingga semakin ketimur budaya khas yang bernuansa bali cenderung memudar. Untuk wilayah timur kentalnya budaya Islam cukup kentara, sebab pengaruh sejarah kedatangan Islam ke pulau lombok melalui dua pintu dari Timur dan Utara.